Aku terduduk gelisah sendirian di tempat tidurku. Sudah hampir jam 12 malam. Senyap. Kupandang pandang piama ungu yang melekat dibadanku. Perlahan kuambil Rosario dari laci sebelah kanan tempat tidurku. Di dalam keheningan kudaraskan devosi pada Bunda Maria sambil menahan rasa sakit di badan. Waktu itu menuju empat hari kami menjalani isolasi di rumah sakit.
Tak ada jam dinding di ruangan itu. Kutengok angka di layar ponsel. Aku memang sengaja terjaga menunggu pergantian hari. Jam 12. Kuhaturkan doa pribadi pada Tuhan, agar perlindungan Tuhan bersama kami. Dan kami segera sembuh dan berkumpul bersama lagi di rumah. Lama kupandangi orang orang yang kukasihi, lalu kutarik selimut untuk sejenak beristirahat.
Iya, kami. Kami berada dalam satu ruangan isolasi. Aku, Angga, Papa Angga, Oppung Angga. Kami positif terjangkit Covid-19.
Tak ada yang menduga dan mau. Angka angka yang setiap hari kami pantau naik turunnya, ternyata memasukkan kami sebagai kontributornya. Ini bukan flu biasa, ini bukan virus biasa. Tak semua dari kami menang. Negatif, bukan akhir dari bahayanya virus. Setelah negatif, perjuangan berikutnya menantang kami.
Aku terbangun beberapa jam kemudian, saat jadwal rutin kunjungan dokter dan perawat di pagi hari. 25 April.
“Selamat ulang tahun, Sayang,” kata suara dari sebelah kiriku. Aku tersenyum bersyukur. Orang yang paling kukasihi hanya berjarak 60 cm dariku, menemaniku di usiaku yang baru. Walaupun dengan selang infus terpasang di tangan yang membatasi gerak kami.
“Githa. HBD yah, Amangboru ga kesana. Capek soalnya,” dari sebrang tempat tidurku, Papa Angga mengucapkan ucapan sederhananya.
“Iya, ga apa apa. Makasih ya, Amang Boru,” sekali lagi. Kuucapkan syukurku, masih dikelilingi orang orang yang mengasihiku.
Kuhabiskan waktu menuju siang dengan membalas pesan di ponselku. Sekitar pukul 12, jadwal pengiriman titipan barang. Barang barang kami lumayan banyak waktu itu. Lengkap dengan sekotak kue tart ulang tahun dari Mama Angga. Selama kami di rawat, Mama Angga dan Kak Tia bolak balik membawa kebutuhan kami.
“Nanti pinjem korek sama perawat ya. Githa harus tiup lilin,” pesan Mama dari video call.
Aku tak mau menambah panjang daftar kenangan buruk di hari ulang tahunku. Biarlah dipertambahan usiaku yang ke 27, kulihat dari perspektif baik untuk kukenang.
“Ulang tahunnya si Githa? Ulang tahun yang ke berapa kau?” tanya Oppung waktu kami membuka kue untuk berniat mengabadikan momen. Sayangnya, lilin belum sempat kami nyalakan.
“27, Oppung,” jawabku. Sekali lagi kuucap syukur bahwa aku tidak sendirian di hari ulang tahunku.
Papa Angga yang hari itu mengeluh lelah, mau turun dari tempat tidur untuk memberikan kenangan di hari ulang tahunku. Untuk yang pertama, dan sayangnya juga yang terakhir…

Izinkan aku mengingat, bahwa kami pernah bersukacita bersama di tengah perjuangan sakit kami. Kusyukuri waktu yang kami habiskan bersama. Walaupun kami belum resmi menikah, Papa beberapa kali mengenalkanku kepada orang sebagai menantunya/parumaennya. Cinta dan kasih Papa, adalah kado terbaik yang pernah kuterima. Yang tak akan pernah tertandingi nilainya dengan apapun. Sekali lagi aku berdoa, semoga cinta dan kasih Papa menjadi cahaya, untuk kami melanjutkan hari hari kami.

Ah we miss you so much, Pa. And we love you always!





