Waktu itu usiaku masih belasan tahun menuju kepala dua. Belum banyak mengerti dunia. Social media belum banyak membahas toxic relationship. Pola pikir yang belum dewasa membuatku tak mengerti apa yang sebenarnya kualami. Dan apa yang harus kuputuskan dalam menyikapi permasalahan dalam hubungan romansa yang nampaknya.. Romantis.. Euwh.
Cinta itu buta. Dan BUDEK sih kalau kata adikku. Tak mau mendengar apa kata orang sekitar yang sudah lebih dulu ada di keseharian. Padahal, mereka yang paling sadar perubahan perilakuku. Bahkan, juga kena dampak. Aku pikir masa itu adalah fase dimana, harus kuperjuangkan cinta sampai akhir! Memang benar kata Agnes Monika, cinta ini kadang kadang tak ada logika.
Semua berawal dari, I was captivated by this jerk words. Ya biasalah. Orang orang manipulatuf jago jual kata. Sampai akhirnya, aku terbuai. Beneran, aku bingung. Semua terasa indah di awal, perlahan kutinggalkan kehidupan sosial bersama teman teman. Bahkan keluarga. Terjebak dalam dunia kata.
“Ga ada yang bisa mengerti kamu. Cuma aku yang paham kamu. Aku khawatir nanti kalau kamu kenapa napa ceritanya sama siapa,” ujarnya narsis.
Welcome to the trap! Saat aku terjebak menjadikannya sentral hidup, saatnya dia memberi makan egonya. Sungguhlah, aku bersyukur di saat ini sudah banyak yang bahas tentang toxic relationship. Dulu, yang sering aku dengar paling paling hanya,
“Lo tuh bego banget emang. Udah sih udahin aja. Mau ngapain lagi sih. Yaelah apa sih yang lo pertahanin dari itu semua? Ga bakal berubah tuh udah. Ngapain sih maafin tukang selingkuh?”
Emang dasarnya lagi budek. Di dalam hati tetep kekeuh sumekeuh. Yaudahlah yang jalanin kan aku dan dirinya. Orang lain cuma bisa komentar dan lihat dari luar. Padahal cara kerja hidup makhluk sosial tidak begitu. Ada orang orang yang peduli bahwa hidupku mulai rusak. Tangisan yang saban hari mereka dengar, curhatan dari permasalahan yang itu itu saja. Dengan ending yang sama. Paling nama lain lagi saja yang datang.
Sepaketnya toxic relationship: cheating, abusive, gaslight. Terus setelah menemukan fakta bahwa partnernya cheating? Bertambah lah masalah hidup yang selanjutnya. Insecure.
Hidupku makin tak tenang. Aku terus memperhatikan segala tingkah atau jejaknya yang mencurigakan. Buang buang waktu! Toh kalau ketemu faktanya, hasilnya mengecewakan diri sendiri. Dari ketuk kamar teman tengah malam buat nangis, sampai bikin Mama nemenin ke UGD karena asam lambung naik. Gejolak kawula muda…
Konfrontasi dari fakta yang ditemukan juga tidak menyelesaikan masalah. Marilah kita masuk ke paket selanjutnya. Gaslight. Siapa yang bersalah atas semua huru hara ini? Tentu saja, aku si pihak yang diselingkuhi. Bersalah karena rese, tidak memenuhi ekspetasinya. Dituduh membuat hidupnya stagnan tidak berkembang. Tidak dapat mengikut pace nya.
Bukan aku tak berupaya lari. Kegigihannya yang pura pura untuk mendapatkan keuntungan, lagi lagi menipuku. Dia menderita hidup tanpaku, bohongnya. Yang paling paling juga dia katakan kepada orang lain.
Aku sepakat, perselingkuhan terjadi karena kontribusi semua pihak. Tapi itu bukan solusi dari permasalahan dalam hubungan. Malah bikin tambah runyam.
“Aku tuh capek ya kamu curigain terus. Aku tuh ga ada apa apa sama si A B C D E F G,” pungkasnya tak mau salah.
Sementara aku dihantui fakta, bahwa si A-G terus berusaha mencari tahu dan mengusik hidupku. Berusaha menyampaikan fakta atau serangan yang mereka punya melalui teman temanku.
Aku jadi berprasangka pada orang lain. Juga dibayangi perasaan bahwa mereka juga berprasangka padaku. Padahal seharusnya, kami semua tidak terjerembab pada jebakan adu domba si pembual ini. Si pelaku nampak menikmati konflik yang dia buat sendiri (sambil pura pura pusing dikejar kejar banyak pihak). Merasa hebat diperebutkan oleh banyak pihak. Padahal, dia tak lebih dari seorang pengecut yang tak sanggup menyelesaikan masalah pada dirinya sendiri. Red Flag!
Seharusnya aku berhenti disitu. Seharusnya. Namun permainan kata katanya kembali menahanku. Baru kuketahui belakangan, bahwa dipaksa mengakui segala pembenaran atas alasan perselingkuhannya disebut gaslight.
“Kenapa kamu selingkuh lagi?,” aku bertanya dengan frutrasinya. Setelah nama kesekian yang dia bawa ke dalam hubungan menjengahkan itu.
“Kamu sih rewel, jadinya aku perlu orang lain untuk mengisi enerji,” ia membela dirinya. Lagi lagi aku dipaksa menerima kenyataan bahwa aku adalah biang keladi dari akar masalah ini.
“Yaudah selesai aja," tawarku memberi solusi.
“Tapi aku lebih pusing kalo ga ada kamu, daripada pusing mikirin kelakuan kamu,” yang tentunya dia tolak demi memberi makan egonya.
Oh. Yaampun aku bersalah telah membuat perasaan pasanganku tidak nyaman, hingga dia harus mencari kenyamanan lain. Aku harus memperbaiki diri agar ini semua tak terjadi lagi. BIG NO! Red Flag!
Dia kembali berhasil memunculkan perasaan kasihanku. Membuatku menghilangkan fakta, ingatan dan logika, bahwa itu bukanlah kejadian pertama kali. Tak mengingat bahwa tempo hari, lagu Betharia Sonata terngiang-ngiang menjadi soundtrack hidpuku.
“Lihatlah tanda merah di pipi bekas gambar tanganmu”
Setelah perdebatan di pinggir jalan yang membuat dirinya terpojok, kalimatku terhenti sejenak dengan mendaratnya tangan di pipiku. Entah siapa yang sudah tak punya malu. Di hari lainnya aku hanya menahan tangis di tempat makan, karena tangan isengnya membuatku pipiku terasa panas. Dia hanya iseng ko. Lalu minta maaf. Sudah. Lagi lagi aku yang harus instropeksi, semenjak lemparan kain yang mendarat di wajah. Red Flag! Hentikan hubungan dari pukulan pertama. Bukan tugas orang lain menghentikan perilaku abusive. Toh lagi lagi, si pelaku kembali membuat seribu pembenaran.
Aku sedang tidak menyerang siapa siapa. Apalagi playing victim. Yes, I let that shit happened to me. Kini aku sudah bisa menertawakan kebodohan yang pernah kulakukan selama bertahun tahun. Hal pertama yang kulakukan setelah tekadku bulat keluar dari toxic relationship adalah, menghubungi satu persatu temanku yang dulu nasihatnya tak kudengarkan. Aku meminta maaf dengan tulus karena telah mengabaikan kasih dari mereka.
My fiancé know the whole story. And let me share the story. Agar orang lain berhati hati dalam memilih pasangan. Ketika dia sampai membuatmu berbohong pada keluarga, Red Flag! Jangan mau ditarik dari jauh dari kehidupanmu. Tak usahlah berusaha jadi jagoan untuk merubah hidup pasangan. Selamatkan diri sendiri dulu. baru orang lain.
Katanya sih, you’ll never find the right person if you never let go the wrong person. Cepat cepat let go setelah nemu red flag. Tidak perlu buang setengah dekade buat sadar dan belajar. Kita punya kuasa dan kendali penuh untuk menyelamatkan diri sendiri. I thanks to God yang masih beserta, walaupun buat sadar kayak harus ditampar dulu. Habisnya dipanggil ga nengok nengok buat balik arah. Tapi ga apa apa, aku masih dikasih kesempatan untuk membebaskan diri dari yang jahat.

