Perenungan siang saya dibuyarkan oleh ocehan teman saya yang bikin terkekah. Kita berdua lagi asyik keliling di Tumurun Private Museum Februari 2019 lalu. Dia yang melihat saya lama mematung di depan lukisan setinggi 2 meter lalu datang menghampiri.
“Eh, dia kenapa nangis ya?” Tanya saya spontan menyadari kehadirannya di sebelah kanan saya.
“Ngerasa dosa kali. Istirnya lagi hamil, dia malah ngerokok,” jawab teman saya ngasal.
“Dih. Apaan sih lo?” saut saya sambil ketawa.
“Ya itu liat dia megang rokok.” Saya baru sadar ada sebatang rokok di tangan kiri lelaki bersayap hitam.


Bermenit menit berdiri memandang kanvas yang besarnya melebihi saya, saya sibuk menghakimi si lelaki yang sedang menutup wajah dengan tangan kanannya. Menduga duga dosa apa yang telah dia perbuat terhadap wanita yang ia punggungi. Sampai tak memerhatikan apa yang terselip di jari jemari kirinya. Lukisan karya F.Sigit Santoso yang berjudul “Mea Culpa, Mea Culpa, Mea Maxima Culpa, paling mencuri perhatian saya sepanjang wisata saya di Tumurun Private Museum.
Dari sini, langkah saya semakin dekat pada persimpuhan saya di depan salib. Berkata dan mengakui, “Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa.”
Pada mulanya, saya bahkan tidak mengerti arti dari judul karya tersebut. Mesin pencari google membantu saya mengetahuinya. Disini, langkah saya tercetus untuk mengenal katolik lebih jauh. Juga untuk mengakui, bahwa saya juga adalah pendosa yang tidak punya hak sombong. Celoteh teman saya mengingatkan, manusia memang sering menghakimi dosa orang lain dengan kehendak dan perspektifnya.
Saya juga menikmati banyak karya lain yang ada di Tumurun Private Museum. Semua yang ada di galeri ini adalah koleksi pribadi dari Iwan Lukmanto dan alm HM Lukmanto. Berada di Jl Kebangkitan Nasional No. 2 Sriwedari, Laweyan, Solo, lokasinya cukup mudah ditemukan walaupun tidak ada plang. Dari luar pagar berwarna hitam, akan nampak bangunan besar yang dikeliling tembok putih bergaris. Persis di sebrang toko marmer alam.
Tidak ada biaya yang dipungut untuk bisa menikmati koleksi karya seni. Saya melakukan reservasi di sini, untuk kemudian memilih jadwal yang masih ada dan pas. Datang tepat waktu, saya dan teman saya dipandu tour guide yang sudah membagi pengunjung dalam beberapa group.
Setiap grup diberi waktu 30 menit untuk melihat lihat koleksi di Tumurun Pivate Museum. Pengunjung dapat menikmati koleksi di area lantai 1. Sebelum memasuki area galeri, tour guide memberikan beberapa peraturan dan arahan. Rasanya, setengah jam berlalu begitu saja. Dengan suasana sejuk dan alunan music santai yang menemani saya memanjakan mata.




Mungkin lain kali, saya akan kembali berkunjung..

