Aku terjaga sebelum matahari tampak dari kaca kamarku. Kudorong daun jendela agar udara dingin menyapa wajahku. Baru 240 menit yang lalu kutaruh kepalaku di bantal untuk beristirahat. Waktu berjalan dan berlalu begitu saja akhir akhir ini. Sudah hampir 2 bulan kebanyakan orang hanya berdiam di rumah, termasuk aku. Hingga akhirnya terpaksa kami berempat terjebak dirumah yang sama selama di 1 bulan belakangan. Akhirnya aku harus mengerti mengapa kini pukul 05.00 pagi adalah waktu favoritku, yang tak dibutuhkan alarm untuk menyambutnya.
Kumiliki saat heningku sendiri, walau sering kebingungan apa yang harus kukerjakan. Kumiliki waktu untuk mendengar suara kokok ayam yang samar, sebelum suara perselisihan terdengar. Kunikmati ruang kecilku tanpa kehadiran orang lain berlalu lalang, bahkan tanpa suara deru mesin kipas. Tak ada tuts keyboard lain berbunyi, selain laptop yang kusentuh. Kumiliki waktu menyentuh lembar lembar kertas tipis, sebelum kusentuh sodet dan pisau. Kumiliki diriku sendiri sebelum mengindahkan kepentingan orang lain.
Mungkin aku memang si egois, yang rewel meminta waktu dan ruang lebih banyak
