Waktu itu akhir Juli di tahun 2012, pertama kalinya aku melangkah ke salah satu gedung lama di tengah kota Semarang yang sudah berdiri sejak tahun 1965. Kurindukan perjumpaan dengan-Nya. Dia yang kutak tahu ada dimana. Kucari tanpa kompas. Usiaku masih 18 tahun waktu aku mulai bergumul, kukenakan salah satu baju favoritku, blouse berenda berwarna pink.
Aku melangkah dengan pasti memasuki gedung megah sore itu, kutatap salib yang berada di altar. Belum ketemukan makna lambang tersebut. Belum juga kutemukan Dia yang kurindukan. Seorang temanku yang semalam suntuk mendengar tangisanku di tempat makan mengajakku untuk ikut bergabung dalam ritual rutinnya, barangkali aku dapat bertemu denganNya. Aku hanya mengangguk.
Bukan suasana yang asing, bukan pujian yang asing, bukan musik yang asing. Aku hanya belum terbiasa dan memaknai. Kucari Dia di tengah kerinduan jiwa yang tak tahu harus melepas dahaga dengan apa. Hari itu kuperhatikan sekumpulan orang di dalam gedung itu berdiri, duduk, memegang buku tebal dan membaca dengan keras apa yang tertulis di dalamnya. Merapal beberapa bacaan.
Hening sesaat. Aku teringat topik yang dibicarakan seorang yang berdiri di depan mimbar
“Jangan takut”
Aku takut menjalani hari. Aku takut kecewa terhadap harapanku pada manusia. Aku takut tak dapat melewati hari demi hari. Aku takut mendengar perkataan yang mengganggu pikiranku. Takut. Takut. Takut. Takut kutersesat dan juga tak kutemukan Dia sampai akhir.
Sore itu, adalah langkah pertamaku untuk mengenal dan berjalan ke arahNya. Aku memulai langkahku, dari GKI Peterongan Semarang.
“Lo yakin mau manggul salib? Berat tau!” seorang teman yang lain mengingatkanku tentang resiko yang harus kutanggung jika aku memilih berjalan ke arahNya.
Butuh waktu 8 tahun untuk mencerna kalimat temanku, Erinne. Juga semakin bingung waktu Oppungku bertanya tentang keputusanku mengisi formulir baptis.
“Githa yakin mau memutuskan ikut Yesus? Ga gampang lho!”
Oke. Aku masih hanya mengangguk sok yakin.
Bukan sebentar dan bukan tak lelah kucari Dia. Kusambangi rumah rumah lain yang konon adalah tempat damai berdiam. Bukan tak putus asa. Bukan tak pernah malu aku untuk meminta. Bukan tak pernah kusangkal kehadirannya di kolong langit ini. Kupikir dia hanya mitos semata. Kupikir dia hanyalah dongeng dongeng pemberi angan palsu, mengapa dia ambil semua dalam sekejap dan membiarkanku menangis sendiri di tahunku yang panjang?
Ternyata aku hanya sombong. Ternyata aku hanya takut meminta dengan hati. Ternyata aku yang tak mau menerima. Bahkan aku yang tak mau melihat. Ternyata Dia dekat.
Seorang teman mengirimi pesan, berdoa semoga aku tak lagi membenci hari pergantian usiaku. Semoga aku berdamai dengan hari lahirku, serta segala kepahitan hidup yang ada. Seperti yang pernah Mark Manson katakan, bahwa “Hidup sendiri adalah kesengsaraan”.
Nun di bukit yang jauh, tampak kayu salib; lambang kutuk nestapa, cela. Salib itu tempat Tuhan Mahakudus menebus umat manusia.
NKB O83
Akhirnya, aku hanya harus meminta, menerima, dan melihat dengan merendahkan hati, seperti FirmanNya yang tertulis di Matius 7:7-11. Agar kasihNya mengisi gelas kosong dahaga. Melihat bahwa Dia dekat, Dia adalah Roh yang diam di masing masing jiwa yang merindukan dan menerimaNya. Yang mau mengaku dosa dan meninggalkan cara hidup lama. Karena
Anak Domba Kudus masuk dunia g’lap, disalib karna dosa manusia

Tuhan Yesus, terimakasih atas penyertaanmu di usia ku ke 26.
Ampunilah aku yang sering melihat dunia dari sudut pandang sinis. Ampunilah aku yang telah melangkah berputar menjauhiMu karena kesombonganku Ampunilah aku yang sering lupa mengasihi diriku sendiri. Ampunilah aku yang sering luput bahwa kasih sukacita mengeliliku dari orang orang baik di sekitarku. Andai saja aku lebih awal merendahkan hatiku, tak perlu aku sibuk mencari tapi tak melihat.
Di malam pergantian usiaku, ditengah pandemi yang sedang melanda dunia sehingga kami harus tetap dirumah, aku bersyukur dapat berkumpul dengan keluarga yang kiranya Engkau kasihi. Untuk pertama kalinya, aku meminta Papa berdoa dalam gereja kecil ini. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mendengar suaranya mendoakanku penuh ketulusan dengan suara yang bergetar, yang juga membuat hatiku tergetar. Kami menangis dalam doa kami malam ini.
Seperti yang Papa doakan dalam doa malam ini, kami bersyukur atas penyertaanMu, Bapa yang di Sorga. Kiranya Engkau selalu menyertai dalam perjalanan putri pertama Papa. Akan kuingat bahwa
Salib itu akan kujunjung hingga tiba saat ajalku.
‘Ku setia tetap ikut jalan salib, meski diriku pun dicela, Satu saat kelak ‘ku dibawa pergi ke tempat kemulainnNya
NKB 083
Kutemui makna yang telah kucari selama 8 tahun. Bahwa memikul salib bukan hal yang mudah. Mematikan kenyamanan duniawi, mematikan keinginan daging. Kehilangan teman dan keluarga. Menerima celaan atas pilihan yang kupilih. Tetap bertahan dalam pencobaan. Kiranya Roh Kudus memberikan hikmat dalam setiap langkahku. Karena hanya kepadaNya aku dapat meminta perlindungan seperti yang tertulis di Mazmur 118:8.

