Skip to content
Lily Daily
Menu
  • Home
  • Cerpen
  • About
  • Contact
  • goodreads
Menu
Mazmur 118:8

Mazmur 118:8

Posted on November 13, 2020November 26, 2020 by Agitha Fricelya

“Kak, apa ayat favorit Kakak?” Bou (saudara perempuan Ayah dalam kultur batak) melemparkan pertanyaan ajaib lainnya. Hari itu cuaca sedang panas, kami dalam perjalanan mobil menghadiri pesta salah satu kolega.

“Hmm. Mazmur 118:8, Bou,” kujawab sambil menyiapkan hati barangkali ada sanggahan ajaib selanjutnya.

“Lho dari perjanjian lama ya, Kak? Bunyinya apa?”

Tanpa membuka aplikasi di ponsel, aku menyebutkan ayat yang sudah kutanam dalam hati semenjak di malam natal 2018.

2017-2018, dua tahunku dengan hari hari yang berat. Aku tersangkut diatas roller coaster, tidak tahu kapan waktunya turun. Mencekam, sampai rasanya ingin terjun. Namun ada sabuk kuat yang menahan. Aku hanya perlu menahan napas dan memejamkan mata sejenak.

Saat itu, tak ada manusia yang bisa dimintai tolong. Juga dipercaya. Apa yang selama ini digenggam erat, yang berharga, satu persatu hilang di rangkaian tahun itu. Ibu yang amat dicinta, pasangan, karir, hubungan dengan anggota keluarga yang masih ada, ditambah kesehatan yang kurang baik sampai terapi berbulan bulan yang harus kujalani.  

Ribuan pertanyaan berputar di kepala. Apalagi sehabis ini? Kenapa harus terjadi? Apakah begitu banyak salah yang telah kuperbuat? Prasangka buruk terhadap yang punya hidup menghantui. Apakah ini semua hukuman? Tak lagi sanggup aku untuk bersimpuh meminta pertolongan, malu hati ini rasanya.

Tak banyak yang berhak kuminta, hanya dikuatkan dalam setiap fase stage of grieving. Teori yang selama sudah kupahami tak mampu ku praktekan. Aku membiarkan diriku tenggelam di fase denial. Terejebak dalam kebingungan luka mana yang harus diproses duluan.

Akhirnya, kembali ku hadapi Dia, setidaknya seminggu sekali di hari sabat. Kudaraskan “Doa Bapa Kami” di setiap akhir ibadah dan perseketuan. Kadang dengan perasaan marah, kutuduh Dia sengaja membiarkanku menangis sendirian. Mengerjaiku karena tak ada lagi manusia yang bisa ku ajak bicara.

Lalu, Doa Bapa Kami yang sering kupanjatkandi 6 minggu sebelum natal mulai meluluhkan hati nurani. Mengubah sudut pandang atas segala peristiwa. Pelan pelan makin bisa kurasakan kehadiranNya didalam hati dan hariku. Semakin jelas kurasa di malam natal, sambil memegang lilin, kubaca kata perkata yang terkena sinar lilin di tanganku.

Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada manusia

Mazmur 118-8

Diiringi pujian yang dilantunkan anak anak, kusadari bahwa segala kesesakan yang dialami, adalah caraNya memanggilku pulang untuk berjalan di jalanNya. Dialah Immanuel, yang menyertai setiap anakNya. Yang tidak pernah menghakimi. Aku tau, perjalanan memanggul salib bukan perkara mudah. Biarlah aku meminta perlindungan hanya kepadaNya.

Anak anak menyanyikan The First Noel

They looked up and saw a star, shining in the East beyond them far. And to the earth it gave great light. And so it continued both day and night

The First Noel

Tuhan, maafkan diri ini yang penuh kelalaian. Engkau dekat, namun aku tak mau menoleh. Engkau melepaskan apa apa yang tak baik dihidupku dengan caraMu. Terimakasih telah hindarkan aku dari yang bukan kehendakMu. Kulihat betapa rancangannya adalah yang terbaik.

“Sabar ya, Kak. Semua itu ada masanya, nanti pasti ada pelangi kok,” Bou menyemangatiku yang sudah makin sering misuh misuhin jalan hidup saat itu.

Akhirnya kini, roller costernya perlahan kembali berjalan, perlahan turun. Aku bisa kembali bernapas sambil menikmati perjalanan berikutnya.

Walaupun rasanya memang tak enak, penuh derai air mata memproses rasa sakit agar sadar dan kembali waras. Setelah menangis dan mempertanyakan apa yang terjadi, setiap hari. Kuputuskan untuk menggantungkan hidup pada Tuhan, lalu semua bisa terlewati sampai hari ini.

Dia pulihkan satu satu, setelah kuterima bahwa rancangannya adalah yang terbaik.

facebook Share on Facebook
Twitter Tweet
Follow Follow us
custom Share
custom Share
custom Share
custom Share
custom Share

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

find me on social media

Recent Posts

  • Update Kehidupan Setelah 6 Tahun
  • Merindukan Nuansa Lebaran
  • Keluar dari Toxic Relationship adalah Keputusan Terbaikku di Usia 25 Tahun
  • 25 April di 27 Tahun
  • Pengakuan Dosa di Tumurun Private Museum

Recent Comments

    Categories

    • Cerpen
    • Life
    • Spiritual
    • Travel
    • Uncategorized
    © 2026 Lily Daily | Powered by Superbs Personal Blog theme