Skip to content
Lily Daily
Menu
  • Home
  • Cerpen
  • About
  • Contact
  • goodreads
Menu

Merindukan Nuansa Lebaran

Posted on August 7, 2021August 7, 2021 by Agitha Fricelya

Udara panas siang menggodaku berjalan ke kulkas untuk mencari kesejukan. Kutemukan stok sekotak daging beku di freezer. Sebagai orang yang belum terlalu piawai memasak, aku masih bingung untuk mengolah daging kurban yang dibagikan dua minggu lalu. Biasanya kalau ada Mama, daging tak akan menjadi stok lama. Mama dan panci prestonya. Bisa saban hari masak daging dengan berbagai macam olahan.

Pandemi yang sudah dua kali dilewati lebaran haji membuatku semakin melewatkan selebrasi. Jangankan menyambangi keluarga atau kolega untuk sekedar makan ketupat, keluar rumah untuk mengucapkan selamat hari raya pada tetangga saja, aku berpikir puluhan kali.

Sebenarnya itu semua hanya tameng atas kekecewaanku yang sudah tidak bisa lagi merasakan nuansa lebaran. Semenjak takbir dari masjid berkumandang menjelang hari raya, hatiku mulai perih perih melihat putaran memori lebaran bersama Mama. Sudah empat tahun, aku tak merayakan hari raya bersama Mama.

Hitungan jari Mama memasak hidangan lebaran. Tapi, duduk bersama makan ketupat dengan masih menggunakan pakaian hari raya yang kurindukan. Bahkan, sekedar omelan Mama karena frustrasi membangunkan suami dan anak anaknya untuk segera bergegas ke masjid. Buru buru mencari tempat untuk dapat shaf. Yaa, kami hanya keluarga biasa yang juga tak semanis potret yang ditampilkan di feed Instagram. Bahkan untuk alasan diplomasi, Papa juga ikut menggunakan baju koko dan menenteng sajadah ke masjid.

Baru tahun ini, aku baru benar benar berani melihat semua instastory yang muncul di beranda saat hari raya. Ikut tersenyum melihat potret potret bahagia keluarga yang merayakannya. Atau sekedar melihat gambar opor dan ketupat yang bolak balik lewat. Aku sudah berani memanggil memori di hari raya. Tak lagi marah seperti saat pertama kali aku tak lagi bisa merayakan lebaran tanpa Mama.

Semakin kudengar takbir yang bersaut sautan, semakin aku terbawa ke memori masa lampau. Duduk di depan TV sambil menanti sidang isbat, sesekali mengikuti suara takbir dari masjid. Atau menghadapi perjalanan malam, menuju kampung halaman Mama untuk merayakan hari raya bersama. Sekali waktu, kami pernah cekikian ketika khatib sholat iednya adalah sepupuku.

Beruntung, aku masih merayakan Idul Adha terakhir bersama Mama di September 2016 lalu. Mama berhasil membujuk aku yang sedang minggat, untuk bertemu di kampung halaman barang beberapa hari. Aku yang nekat naik bus yang belum pernah kunaiki sebelumnya, menempuh jarak 294 km di bus. Berdoa doa supaya tidak salah turun terminal atau diganggu orang asing di jalan. Dengan kekuatan doa dari Mama, masih kunikmati bistik daging, sate kambing, ketupat, dan opor buatan bude budeku. Haha iya. Mama tetap bantu bantu sedikit paling.

Kini, aku memang seorang Katholik. Tapi, bukan masalah keimanan yang kini sedang kubicarakan.  Aku hanya sedang membicarakan rindu yang bisa menyeruak kapan saja tanpa perlu diduga dan ditunda. Toh, kalau ada Mama, aku akan tetap dengan sukacita makan ketupat dan opor bersama di meja makan. Ketupat dan opor, rasanya mungkin sudah tak lagi sama. Karena yang kurindukan bukan rasa makanannya, tapi nuansanya.  

facebook Share on Facebook
Twitter Tweet
Follow Follow us
custom Share
custom Share
custom Share
custom Share
custom Share

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

find me on social media

Recent Posts

  • Update Kehidupan Setelah 6 Tahun
  • Merindukan Nuansa Lebaran
  • Keluar dari Toxic Relationship adalah Keputusan Terbaikku di Usia 25 Tahun
  • 25 April di 27 Tahun
  • Pengakuan Dosa di Tumurun Private Museum

Recent Comments

    Categories

    • Cerpen
    • Life
    • Spiritual
    • Travel
    • Uncategorized
    © 2026 Lily Daily | Powered by Superbs Personal Blog theme