Sebelum kita mulai dekat, tidak banyak kata atau interaksi yang terjadi. Apalagi setelah lulus, hanya terhitung jari menyapa di social media. April 2017, aku dikejutkan dengan kehadiranmu di pemakaman Mama. Menggunakan baju biru seragammu, dan sepatu biru. Tergopoh menghampiriku yang sedang berjalan ke pintu keluar seusai pemakaman, mengulurkan tangan untuk berjabat. Saat itu aku terang saja aku tak bisa memelukmu. Kita masih sibuk dengan pilihan masing-masing. Masih kuingat kata perkata yang kau ucapkan di pemakaman siang itu,
“Git, gue balik duluan ya. Mau kerja soalnya. Turut berduka. Dapet salam.”
“Iya, makasih ya, Ngga,” jawabku hambar.
Tidak banyak kata yang dapat kukeluarkan di suasana duka. Kubiarkan semua orang lalu lalang, memberi salam, mendoakan. Tapi kehadiranmu dan sapaanmu di siang itu, masih membuatku terheran heran. Kita tak punya hubungan dekat semasa kuliah, jadi ucapanku terimakasihku sungguhlah tulus sebagai apresiasi atas ketulusanmu yang mau repot repot menunda keberangkatanmu ke kantor. Jauh jauh melipir ke Tangerang Selatan dari Bekasi, untuk memberiku sedikit kekuatan yang sedang berduka.
Kamu tak begitu melihat kesedihanku di hari itu, katamu Papa dan Fira yang terlihat masih terus menangis, sedangkan aku lebih banyak diam. Hari itu, aku tak bisa mendefinisikan kesedihan, lebih banyak kebingungan. Tak ada bahu yang bisa kusandari, untuk menampung pecah tangisku. Kubiarkan semua orang menganggap aku kuat. Kubiarkan orang lain menangis lebih kencang dariku. Tapi mungkin, tak akan kulupakan satu satu wajah yang menguatkanku dan hadir selama proses pemakaman, juga dirimu.
Tak terbayangkan di kepalaku, setelah tiga tahun berlalu, tempat pertama yang kita kunjungi setelah kepulanganmu ke Indonesia adalah tempat terakhir kita bertemu sebelum keberangkatanmu ke Jepang. Pemakaman Mama. Dengan suasana dan sudut pandang yang berbeda di Desember 2020. Selama tiga tahun kepergian Mama, tak sekalipun aku menangisinya lagi sampai sesak. Hari itu, kubiarkan tangisku pecah. Toh sudah ada bahu yang bisa menampung air mataku, bahkan jiwa yang bisa kupeluk di tengah kedukaanku.
Sedikit kusayangkan, kamu tak sempat bertemu Mama. Tapi tak apa, kuyakin Mama disana tak lagi berat atas pilihanku tentang pendamping. Kamu masih bisa merasakan hangatnya jiwa Mama lewat pelukku.
Mam, Githa sama Angga dateng buat minta ijin dan doa restu Mama. Sayang sekali, Mama nanti tidak bisa hadir seutuhnya dalam momen bahagia kami. Tapi Githa yakin, jiwa Mama selalu hadir untuk memberkati kami. Jangan khawatir lagi ya, Ma.
Dia janji, untuk melewati semuanya bersama. Susah sedih yang pasti ada didalam hari hari kami. Mama ga perlu mendengar cerita galau Githa lagi, pun hari Githa nanti sedih, Githa yakin dia yang akan menguatkan. Kiranya semangat dan kesabran Mama dalam menjalani pernikahan sampai akhir hayat, bisa kami teladani.
Angga juga sayang sama adek dan Papa juga, juga sama Mama. Jadi kita berdua pasti akan jagain Adek sampai dia bisa mandiri. Ga cuma Angga, semua keluarganya juga menyambut Githa dengan cinta dan kasih yang hangat. Papa juga sudah dengan kerelaan hatinya, memberikan restu untuk boru panggoarannya melangkah untuk bab hidup yang selanjutnya. Jadi Mama ndak perlu khawatir dan sibuk menenangkan Papa, atas ke keras kepalaan Githa. Mama juga ga perlu pusing pusing nemenin Githa nangis nangis di UGD lagi. Githa janji akan lebih memerhatikan dan bertanggung jawab atas kesehatan. Makasih ya, Ma. Bahagia disana.
We love you, Ma.

