“Hidup harus jalan terus ya, kita semua harus kuat. Mama kayaknya udah enggak kuat. Tapi Papa kepikiran Adek,” Papa mengajak saya duduk di tangga, membicarakan kemungkinan terburuk di depan mata. Melepaskan yang tersayang. Di balik glass block di hadapan kami, terlihat bayangan Adik saya sedang khusyuk meminta pertolonganNya. Hari itu, Papa sudah enggak mau nengok Mama di ruang HCU (High Care Unit). Papa sudah tak sanggup menerima kenyataan bahwa yang dikasihinya telah bersiap untuk pulang.
Hari itu 11 April 2017, seharusnya tindakan operasi Mama untuk pemasangan selang di kepala dilakukan dari beberapa hari sebelumnya. Seperti memberi sinyal penolakan untuk dibedah lagi, kadar gula darah Mama, yang enggak pernah punya riwayat diabetes tiba tiba naik. Akhirnya jadwal operasi harus ditunda hari guna penyuntikan insulin, menunggu kadar gula darah kembali stabil. 2 hari menunggu yang dipenuhi dengan drama. Dokter bedah syaraf yang ngedumel ke keluarga pasien, karena sebal harus utak atik jadwal. Dokter penyakit dalam dan anastesi enggak acc buat tindakan operasi. Rasanya energi saya tuh habis buat ngedebatin tenaga medis. Kan saya juga enggak tau kalo akan ada kondisi Mama enggak siap untuk masuk OK (Operatie Kamer).
Setelah penyuntikan insulin selama 2 hari, kadar gula Mamapun turun, dibarengi dengan denyut jantung dan saturasi darah Mama. Selepas maghrib, perawat dari ruang OK naik ke lantai 5 tempat rawat inap Mama, membawa tabung oksigen buat Mama yang jam 6 sore harusnya masuk ruang OK. Saya dan Adik stand by di pintu kamar rawat Mama. Fira yang enggak lepas perhatiin monitor vital sign, berinisiatif tanya ke perawat jaga.
“Sus, itu kenapa angkanya semuanya turun?”
“Gausah banyak nanya nanya dulu deh, saya lagi bikin laporan buat dokter,” jawab perawat jaga. Saya narik napas. Mungkin dia lelah habis jaga 24 jam.
Dengan perasaan dongkol dan was was, saya ajak Fira buat duduk di ruang tunggu, berhubung HCU juga sedang ramai di jam besuk. 5 menit kami duduk buat nunggu persiapan operasi Mama, keluarga pasien lain menghampiri kami, dari jarak 5 meter si Ibu berteriak.
“Dek dipanggil dokter, Dek. Dipanggil dokter”
Segera saya balik ke kamar rawat Mama, terlihat garis di monitor vital sign Mama yang sudah tidak ada gelombangnya. Lurus. Berhenti. Sama kayak yang sering disaksikan di film.
Mama sudah hilang sadar, suntikan Epinephrine tidak juga memicu jantung Mama kembali bekerja. CPR pun dilakukan, saya ngilu liatnya. Membayangkan rasa sakit yang mungkin dirasa Mama. Langkah kaki saya berat, saya mau berhenti, mau kabur. Tapi enggak ada orang lain yang sanggup mendekat ke Mama.
“Gak boleh, gak boleh gitu dong! Itu Mamanya ditolongin,” teriakan histeris Fira terdengar dari ujung ke ujung lorong ruangan. Pengunjung lain mulai berdatangan. Papa meluk Fira berusaha menenangkan. Saya tahu, Papa juga sudah enggak tahu mau berbuat apa. Residen yang menangani Mama pun gentian meluk Fira.
“Yuk, Dek. Mamanya dibimbing,” salah satu tenaga medis berbicara kepada saya.
”Asyhadu alla ilaaha illallah… Ma, yang tenang ya, Ma,” pelan pelan saya bisikin di kuping Mama. Sambil meraih tangan putih pucat Mama yang sudah dingin seperti es.
Setelah 3 tahun berjalan, sampai hari ini. Rekaman peristiwa tersebut enggak hilang dan masih sering terputar jelas di kepala saya. Juga semua suara, terngiang ngiang jelas di kuping saya. Teriakan Fira, suara berat Papa, keriuhan HCU. Sampai suara dokter yang menyebutkan jam kepulangan Mama.
“Kita udah berupaya, tapi ya gimana”
Saya cuma bisa duduk di kursi tunggu pasien yang ada disamping tempat tidur Mama. Memerhatikan gerak gerik tenaga medis, sambil pelan pelan menerima kenyataan, bahwa alat bantu Mama memang harus dilepas satu persatu. Dunia saya runtuh, enggak tau mulai darimana. Saya enggak bisa nangis keras keras melepaskan emosi, karena pilihannya hanya memaksa diri untuk tetap waras. Dunia baru saya dimulai dengan menatap layar ponsel, mengingat ingat siapa saja orang orang yang harus saya kabari. Ponsel saya mulai sibuk berdering. Dari yang mempertanyakan ambulans mana yang akan digunakan, lokasi pemakaman, sampai dengan mempertanyakan keabsahan berita duka. Persetan dengan dunia, siapa yang sempat bercanda setelah kelelahan berbulan bulan ini. Ditambah saya harus urus semua urusan administrasi sendirian, beserta segala keputusan yang harus segera saya ambil.
Semua yang harus saya urus membuat saya melupakan rasa kehilangan dan kesedihan saya. Bahkan suara tangisan orang lain lumayan mengganggu perasaan saya. Saya benci orang lain menangisi kepulangan Mama. Terngiang ngiang di kepala pesan dari Mama.
“Harus kuat ya. Harus kuat kayak Mama. Engga boleh nangis terus,” kalimat Mama yang pernah diucapkan untuk menghibur saya yang patah hati.
Tak pernah terpikirkan di benak, bahwa surat kematian yang sering temui dalam bagian pekerjaan saya, kini tertera nama Ibu sendiri. Saya terduduk di ruang jenazah, memandang bergantian tempat Mama sementara disemayamkan, dan kertas tipis bercap rumah sakit.
Mama memang jarang sakit atau pura pura tidak sakit. Definisi sakit buat Mama, dia sudah tidak bisa bangun dari tempat tidur. Gangguan syaraf di kepala bikin Mama enggak bisa control motoriknya, tapi masih bisa menolak dipasang selang infus dan NGT. Diluar kontrolnya, Mama terus berupaya melepas semua selang dan kabel yang terpasang. Kami sedih lihat Mama sampai harus diikat. Selama Papa belum ngantuk parah, yang beliau lakukan adalah megangin tangan Mama. Sambil beberapa kali berucap.
“Ma, Papa disini.”

Karena disaat saat terakhir sadar yang terus Mama panggil, ya Papa. Ah, inilah ternyata sebenar benarnya cinta. Yang karena besarnya cinta Papa, Papa berucap.
“Ma, Mama kuat banget ya. Tapi lama lama, Papa yang enggak kuat liat Mama sakit begini.”
Ya. Kami semua enggak kuat liat Mama yang sudah habis daya. Terkhusus Papa yang sudah bersama selama 29 tahun. Hatinya hancur berkeping keping. Maka dari itu, waktu rumah sakit kota memutuskan merujuk Mama ke rumah sakit nasional, kita bertiga tahu, bahwa kemungkinan terburuk peluangnya semakin besar terjadi. Yang bisa kita tanamkan dalam hati, adalah mengikhlaskan apapun rencana Tuhan melepaskan Mama dari rasa sakit.
Mungkin, orang lain menganggap saya kuat banget menghadapi ini. Kenyataannya, saya cuma lebih enggak kaget aja. Tiga bulan menemani bolak balik rumah sakit, Mama sudah sering pamitan sama saya. Satu pagi saya mau berangkat ke kantor sambil siapin sarapan dan air panas buat Mama, Mama yang baru bangun tidur menceritakan isi mimpinya lalu bilang.
“Mama capek Git gini terus, kalau Mama harus dipanggil, Mama udah siap. Mama udah ikhlas.”
“Udahlah, Ma. Namanya juga bunga tidur,” saya menjawab pura pura menenangkan. Dan menolak kemungkinan itu terjadi.
Juga cincin pernikahan, Mama. Sebulan sebelum kepulangannya, Mama lepas cincin pernikahannya karena harus masuk ruang operasi. Mama pernah bilang, selama cincin masih terpasang dijarinya, berarti Papa masiha ada di hati. Selepas operasi, Mama enggak pernah pakai cincinnya lagi. Bukan Papa sudah ga ada dihati Mama, tapi Mama mulai melepaskan apa apa yang dia punya di dunia. Karena pada akhirnya, setiap orang pasti berpisah dengan orang yang dicintainya. Entah karena keadaan, ataupun bahkan dipisahkan oleh kematian. Tapi seenggaknya, engga ada penyesalan karena sudah berusaha kasih yg terbaik, sampe akhirnya liat Mama pulang. Kalo Mamanya sendiri aja udah ikhlas, udah pamit dan siap pulang, alasan apa yg harus bikin saya ga ikhlas? Ga ada.

Akhirnya, kami harus mengantarkan Mama ke tempat peristirahatan terakhir. Yang mana, lokasinya punya banyak momen emosional buat kami sekeluarga. Di sebrang pemakaman, berdirilah toserba tempat Mama dan Papa kencan pertama kali. Gedung itu, menjadi saksi saya tumbuh besar semakin tahunnya. Menghabiskan waktu bermain bumper car bersama Papa selepas rutinitas belanja bulanan. Pasar ikan yang buka di malam hari, persis berada di sebelah kompleks pemakaman. Juga surabi favorite Mama, hanya berjarak 200 meter. Bukan suatu yang aneh, kalau sampai saat ini, Papa masih menghindari area ini.

Saya dulu pernah jahat, memaksa adik dan Papa saya lari dari perasaan dan emosi. Saya pikir itu adaptasi, tapi bukan. Itu hanya bentuk lari dari perasaan kehilangan. Saya enggak tahu, tahun tahun kemarin saya pernah menangis karena kehilangan atau enggak. Saya benci suara tangisan, saya benci menangis.
Setelah tiga tahun berjalan, saya baru sadar kalau saya juga hancur dan kehilangan. Memori memang seharusnya tinggal. Tapi saya perlu melepaskan emosi. Melepaskan kepergian Mama dengan sungguh sungguh. Mama akan selamanya ada di hati kami, tak ada yang bisa menggantikan. Di tahun ketiga ini, saya mulai benar benar menerima kalau kepergian Mama meninggalkan luka mendalam buat kami semua. We were crying in different way, dengan cara cara masing masing.
Saat saya menulis tulisan ini, saya harus berkali kali berhenti, menarik napas dan menyeka air mata. Ya, saya amat kehilangan. Juga berduka. Harusnya, saya membiarkan proses menerima luka berjalan dengan semestinya. Menangis, melepaskan marah, menolak sampai akhirnya menerima. Tapi saya menolak menjalani proses yang ada, saya memaksa diri saya pura pura menerima ini semua. Yang akhirya membuat luka baru, di kehidupan kami. Adalah wajar menangisi kepergian seseorang. Pelan pelan saya terima bahwa Mama sudah tidak lagi bersama kami di dunia, Sambil terus mengingat bahwa kehidupan yang masih ada penting dan perlu untuk diurusi dan dikasihi, sebelum tiba waktunya masing masing dari kami juga harus pulang.
Untuk kalian yang juga berduka, lewatilah proses penerimaan yang harus dilewati. Biarlah perlahan, tapi akan. Memang tak akan pernah mudah, tapi kiranya pertolongan Tuhan beserta kita yang berserah. Biarkanlah air mata jatuh, untuk menemani di kala jatuh. Yakinlah, bahwa hari matahari esok akan tetap bersinar, memberi kehangatan pada jiwa jiwa rapuh yang berusaha bangkit.
Salam sayang, Agitha Fricelya.



