Lalu lalang orang membuat fokusku buyar, lamunanku terbang kemana mana malam itu. Layar TV di restoran fast food yang kusambangi menayangkan berita mancanegara. Kulihat para demonstran memenuhi jalan tanda tak terima kebijakan kepala negaranya. Tak menarik. Aku kembali mengunyah kentang gorengku.
Kulihat seorang Ibu yang tampak berumur 50an, membersihkan gelas dan box makanan yang ditinggalkan si pembeli. Di usia yang tak lagi muda, cukupkah enerjinya menopang kaki kurusnya naik dan turun tangga sambil membawa nampan? Adakah yang menunggunya dirumah? Yang menantinya membawa sekantong kebahagiaan. Adakah cucian menumpuk dirumah? Yang menunggu tangannya untuk membereskannya.
Lalu kupandangi sela sela jari tanganku, kulitku mulai kering dan terkelupas, kuingat ingat merk deterjen yang terakhir kupakai. Apa terlalu keras? Pernah kupunya kulit telapak tangan halus, waktu aku mampu membayar jasa tukang cuci dan memesan jasa pesan antar makanan, sampai akhirnya aku berhenti. Bukan karena uang, digunjing kalau kulit halus telapak tangan adalah penampakkan dari wanita pemalas yang menghentikannya. Ah, apakah apa apa perkara domestik adalah tugas wanita? Apakah tangan halus membuatku nampak seperti wanita tidak sempurna?
Kuayun ayun gelisah kakiku, sambil bolak balik menengok telepon genggam dihadapanku, kulihat pop up pesan yang sengaja tak kubaca, tak tau harus kuresponi apa. Kegelisahannya perlahan menjadi kegelisahanku. Cita citanya berkarir mulai dikuburnya demi tuntutan peran rumah tangga. Ia sering berbicara melantur akhir akhir ini, apakah ia kehilangan aktualisasi diri? Apakah kelak aku juga harus memenuhi ekspetasi dan konstruksi sosial yang sudah ratusan tahun dibentuk oleh peradaban lalu kebetulan mengelilingiku?
Lamunanku kembali terpecah oleh dengusan dari meja sebelah kananku, dua orang remaja yang tadinya sibuk menatap layar laptopnya, salah satunya tiba tiba melempar kesal pulpen. Mengeluh lelah mengerjakan tugas akhirnya. Ia ingin segera menemukan seseorang yang bisa menikahinya agar terbebas dari kewajiban studinya. Sementara didepan meja kasir, seorang wanita dewasa kerepotan mengambil bungkusan pesanannya, tangan yang satunya menggandeng seorang balita. Disebelahnya tampak seorang lelaki yang mungkin suaminya sibuk dengan telepon genggamnya.
Kepalaku mulai pusing dengan pertanyaan yang muncul. Is she really happy? Sambil memandangi bergantian beberapa sosok yang malam ini mencuri perhatianku. Apakah mereka bahagia dengan masing masing pilihannya? Apakah masing masing dari mereka punya lebih banyak pilihan dalam hidupnya? Apakah mereka juga punya kesempatan protes dengan keadaan yang dihadapi seperti para demonstran?
