Skip to content
Lily Daily
Menu
  • Home
  • Cerpen
  • About
  • Contact
  • goodreads
Menu

Keputusan Besar, Memanggul Salib

Posted on December 13, 2020February 17, 2021 by Agitha Fricelya

Jujur, saya agak ngeri ngeri sedap buat nulis dan membagikan ini. Tapi okeylah, mungkin masih banyak orang orang yang berasumsi. Ga berasumsipun tidak apa apa. Saya hanya ingin membagi sedikit cerita.

Sebagian teman teman saya mungkin bingung dan bertanya kenapa belakangan saya sering tampil di gereja, atau sedikit menegaskan identintas lain saya. Mungkin juga tidak, orang emang sering dikira Kristen. Hehehe. Stereotype dari nama yang dikasih, menjelaskan saya berasal dari suku apa. Ga salah juga.

Terlahir menjadi anak pertama dari Mama Papa yang kebetulan pasangan beda keyakinan, membuat saya tumbuh besar mengenal beberapa kultur. Mama seorang sunda beragama Islam, sedangkan Papa adalah seorang anak dari Sintua yang bertugas di gereja Kristen Protestan. Singkat cerita, Papa mengalah dan menyerahkan pendidikan religi anak anaknya kepada Mama.

Mama, tidak pernah gagal menjadi seorang Ibu yang mendidik anak anaknya. Sama sekali tidak. Beliau Ibu yang tekun mendisiplinkan anak anaknya. Waktu saya masih sekolah dasar, tepat pukul 18.00, TV harus segera dimatikan. Padahal, saya lagi seru serunya nonton Hachi si anak sebatang kara. Pertanda saya harus segera mengambil air wudhu, memulai ibadah maghrib, dilanjutkan dengan tadarus kitab suci sampai isya. Setelah beres, barulah Papa mengambil alih mengawal saya belajar dalam hal akademik. Tidak  ada gesekan yang berarti selama kami hidup berpuluh puluh tahun. Ada sih kadang, tapi yasudah. Itu konsekuensi dari pilihan yang mereka ambil.

Dan konsekuensi lain pun hadir diam diam, saya mencari tahu mengapa ada berbagai macam keyakinan di sekitar saya. Walaupun sering menghadiri acara keluarga besar Papa yang sering diisi dengan kebaktian kecil, keluarga besar ga pernah ngusik kepercayaan kami. Saya dibiarin ibadah pada waktunya, juga disiapin makanan khusus yang halal. Intinya, saya engga kena kristenisasi sama sekali.

Entah kenapa ada satu memori yang masih melekat di otak saya. Waktu itu kita bertiga lagi jalan jalan sore keliling komplek dan ngelewatin gereja. Anak kecil penuh ide ini nyeletuk,

“Ma, aku kalau udah gede, mau ke gereja ya.”

“Enggak.”

“Ya kan kalau udah gede.”

“Enggak”, jawab Mama dengan muka judesnya. Saya yang belum sekolah sih iya iya aja waktu itu.

Papa pura pura ga denger aja sambil nyetir. Banyak hal yang nge-trigger untuk semakin mencari tahu. Terlalu banyak pertanyaan pertanyaan yang muncul di kepala saya. Kemana sih saya harus berjalan?

Puncaknya terjadi diumur saya yang ke 18. Anak remaja menuju dewasa ini lagi galau berat. Malam minggu, curhat sama senior di warung pinggir jalan sambil makan roti bakar. Sambil nahan nahan nangis.

“Besok ikut gue ibadah yok, kali aja jadi tenang.”

“Boleh lah”, jawab saya. Mau ketemu apa kek besok. Terserah.

Ya, dengan menggunakan blouse pink, saya berangkat ibadah pagi di GKI peterongan jam 08.30. Saya resmi masuk gereja pertama kali. Saya masih hanya mengamati. Ya engga asing buat saya yang udah sering ikut kebaktian keluarga. Habis itu, saya langsung bbm kakak sepupu dan Papa saya.

Tentu saja Papa terkejut sambil berpesan jangan sampai Mama tahu. Mama mungkin bisa santai, tapi kebetulan keluarga besar dari Mama bukan orang yang sesantai itu.

Dan benar saja, setelah pergi ke gereja pertama kali, saya jadi rutin pergi ke gereja dengan orang orang terdekat saya. Paling hanya 3 orang yang tau. Entah darimana, sampailah berita itu ke telinga Mama.

Di suatu sore yang damai, blackberry saya getar getar. Ada chat dari Papa.

“Git, Mama tiba tiba nangis nangis, katanya mau ke Semarang.”

“Kenapa?”

“Ada yang lihat Githa di gereja.”

Jengjeng. Sampai sekarang, saya enggak tahu siapa oknum yang menyampaikan berita itu ke Mama. Dulu sih saya jengkel, tapi saya sekarang lega. Dan mungkin kalau boleh mengucapkan terimakasih ke beliau. Karena ke-cepu-an beliau, saya yang cupu buat ngaku secara gamblang seenggaknya jadi tau jawaban Mama atas keputusan saya

“Kalau pun itu memang iya, Mama gpp ko. Sama kayak yang Oppung bilang ke Papa, Mama juga Cuma bisa bilang, apapun yang Githa pilih, jalani sepenuh hati.”

Sambil mandangin pohon rambutan di area tengah kosan, kita ngobrol di kursi. Saat itu, saya masih mengelak. Dan malah memutuskan berhenti ke gereja. Bukan apa apa, saya sayang banget sama Mama. Saya enggak tega, kalau Mama dicap sebagai Ibu yang gagal didik anaknya. Padahal enggak, enggak sama sekali. Tapi di dalam diam, kadang saya masih baca alkitab. Alkitab pertama pemberian dari sahabat saya di SMA. Dan Alkitab bersejarah itu hilang. Sedih banget.  Namun sekali lagi, karena satu dan lain hal, saya juga sejenak berhenti mencari.

Kalau respon dari Papa sih, pragmatis banget waktu itu.

“Papa sih terserah Githa mau agamanya apa aja, yang penting berbuat baik dan percaya Tuhan. Tapi tunggu sampai udah kerja dulu ya. Bukan apa apa, buat sekarang Papa dalam posisi enggak aman kalau mau back up Githa,” ujar Papa si manusia practical

Ngedengerin anaknya cerita, kelakuannya ajaib banget. Ngelilingin semua rumah ibadah, capek dan, berhenti lagi.

Tibalah waktunya lulus dan mulai bekerja, saya yang sudah punya bargaining point bisa bayar kerinduan yang selama ini dipendam dalam hati. Pokoknya garus dicari sampai ketemu lagi! Setiap natal, selalu berandai andai bisa ngerayain bareng Papa. Dan dua natal yang mengubah hidup saya. Saya hampir menyerah sama hidup. 2016 dan 2018. Tapi, Tuhan juga yang selamatkan saya dari keputus asaan di waktu itu. Kalau bukan pertolongan Tuhan. Saya gatau mau minta tolong sama siapa. Ditambah lagi, kepergian Mama. Kami semua shock. Papa yang biasanya sembunyi sembunyi untuk pergi beribadah, memutuskan kembali rutin pergi ke gereja. Saya sih masih belum berani, paling banter balik dengerin khotbah pendeta dari Spotify setiap pagi.

Suatu minggu pagi di November 2018, Papa sudah rapi rapi dengan kemeja corak merahnya.

 “Pa, mau kemana?” tanya saya.

“Ke gereja.”

“Ikut.”

“Jangan. Nanti Adek marah.”

“Gpp. Nanti Githa yang bilang sama Adek.”

Akhirnya Papa sepakat membiarkan saya ikut. Untuk pertama kalinya, di umur 24 tahun, anak adan Bapak ini ibadah bareng di gereja. Masih teringat jelas di kepala saya, betapa Papa bangga mengenalkan anak gadisnya ke semua teman gereja yang dia kenal.

“Ini putriku yang paling pertama”

Saya baru tau, sebegitu besar cintanya Papa ke Mama sampai sampai dia menahan diri 24 tahun untuk tidak beribadah bersama keluarga tercinta. Akhirnya putrinya berjalan menuju pulang. Tapi, apakah Papa mempengaruhi saya untuk terima Baptis? Enggak. Sama sekali. Tak ada anggota keluarga yang langsung menerima keputusan saya.

Adek saya, awal liat saya ke gereja tentu saja pakai ngambek. Tanpa perlu banyak berkata, dia tahu dan mengerti alasan saya, maka di suatu minggu pagi setelah beberapa bulan berjalan, dia tiba tiba panik masuk kamar saya jam 9 pagi.

“Kak, kak! Enggak ke gereja?”

“Enggak. Gereja sore,” saya yang baru tidur dua jam kaget. Kaget karena ada yang gedor pintu dan diingatkan pergi Ibadah sama si Adek.

Barulah kemudian saya ngajak depth talk sambil berpesan,

“Kakak tidak akan mengintervensi apapun yang kamu percaya, dan Kakak harap kamu tetap menjadi penganut agama yang baik.”

“Dedek tau kok, setiap orang punya perjalanan spiritualnya masing masing,” jawab si Adek. Dia adalah ABG yang cukup dewasa mengadapi segala hal pada umurnya. Walaupun Kakak sering ngomel ngomel, terimakasih atas dukungannya ya.

Semua temen dan anggota keluarga Kristen saya, memaksa saya mempertimbangkan ulang keputusan saya. Belum lagi, asumsi bahwa ke-impulsive-an saya menghadapi putus cinta, jawabannya enggak juga. Saya butuh waktu 7 tahun, untuk akhirnya dengan kesadaran penuh minta tolong pada Oppung untuk ambilin formulir baptis. Saya memilih gereja sendiri, yang saya yakini saya akan belajar dan bertumbuh selama menjalani katekisasi selama satu tahun. Memisahkan diri dari Papa dan kebanyakan keluarga besar saya.

Menerima Baptisan Kudus, 19 April 2019. Disaksikan oelh keluarga besar, di GKOI Pondok Pucung

Tidaklah mudah buat mengakui ini semua, ga bisa dipungkiri, perihal ini sering menimbulkan kontroversi. Setelah 8 tahun, saya mulai berani semakin terbuka. Karena pada akhirnya, pihak pihak penting yang perlu tahu, sudah mendengar pengakuan dari mulut saya sendiri. Saya enggak ada beban, kalau mereka nanti protes dari orang lain. Butuh proses yang sangat panjang, untuk menerima bahwa memang ada salib yang harus panggul. Salah satunya, ketidakterimaan dari banyak pihak.

Pertama, saya mulai ajak ngomong satu satu adalah temen temen terdekat saya. Dengan segala keraguan dan ketakutan, intro yang paling sering saya gunakan adalah,

“Masih mau jadi temen gue ga?”

Tentu, saya mendapatkan ragam reaksi.

Satu malam di bulan maret 2019, teman saya sedari SMP berupaya menahan tangis seraya berkata,

“Git, seperti yang sering lo bilang. Kita tuh tumbuh bersama. Dari lubuk hati gue yang paling dalam gue sedih banget. Gue minta tolong lo baca dan cari tau sekali lagi ya, Git. Tapi kalo emang itu adalah keputusan, gue sebagai temen ya tetep dukung aja,” diiringi live music di kedai kopi EarHouse, lelaki di hadapan saya pasrah dengan raut sedihnya.

Satu temen saya yang lain, sampe engga makan waktu habis liat foto saya di batpis. Merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan saya.

Ada juga teman yang nangis nangis sesenggukan waktu saya confess mengenai iman yang baru. Juga merasa gagal menjadi teman, tidak tahu apa apa di saat saat terburuk saya. Memang, banyak hal yang saya pendam dan pikirkan sendiri selama bertahun tahun

Satu hal yang seringg saya bilang ke orang orang,

“Saya minta maaf karena tidak bisa menyenangkan semua orang.”

Juga ke keluarga besar Mama, yang jelas jelas kecewa dengan perubahan status saya, tanpa meminta pertimbangan. Dengan segala kerendahan hati, saya berupaya menjelaskan tanpa membuat pihak manapun tersinggung. Dengan mengumpulkan segenap keberanian, saya bertekad tidak lagi boleh berpura pura tidak terjadi apa apa. Yang bisa saya lakukan dan buktikan, bahwa kasih yang Tuhan titipkan akan saya berusaha bagi bagi kepada siapapun. Dengan tidak lagi memendam amarah dan kekecewaan, sepahit apapun respon atau kata kata yang pernah atau akan diucapkan. Karena sebegitu besar kasihnya Tuhan, walaupun kekecewaan tidak dapat dihindarkan, keluarga menerima segala keputusan yang saya ambil sendiri.

Kuucapkan terimakasih pada Papa, yang puluhan tahun berdoa dalam diamnya. Juga Oppung Doli, yang menyelipkan foto Githa di Buku Endenya untuk terus di doakan. Saya pun berdoa, kiranya saya tidak menyerah dalam perjalanan iman yang masih panjang ini. Untuk mengenal kristus sehingga bisa menjadi pribadi yang serupa dan segambar dengan Allah.

Ibadah Sidi, setelah satu tahun menjalani katekisasi.

    facebook Share on Facebook
    Twitter Tweet
    Follow Follow us
    custom Share
    custom Share
    custom Share
    custom Share
    custom Share

    Leave a Reply Cancel reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    find me on social media

    Recent Posts

    • Update Kehidupan Setelah 6 Tahun
    • Merindukan Nuansa Lebaran
    • Keluar dari Toxic Relationship adalah Keputusan Terbaikku di Usia 25 Tahun
    • 25 April di 27 Tahun
    • Pengakuan Dosa di Tumurun Private Museum

    Recent Comments

      Categories

      • Cerpen
      • Life
      • Spiritual
      • Travel
      • Uncategorized
      © 2026 Lily Daily | Powered by Superbs Personal Blog theme